English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Aku kalah.........



Aku pendam kisah ini dengan harapan bisa mengubah niatnya namun hari ini aku mengaku kalah..., kalah dari meyakinkan sahabatku atas niatnya yang salah dalam merefleksikan kita adalah aset tak ternilai,karna hari ini dia putuskan untuk menemui seseorang yang membutuhkan pertolongannya,yakni seseorang yang membutuhkan ginjalnya...

Sahabatku yang satu ini sosok yang luar biasa,kecintaannya pada keluarganya, rasa sosialnya yang tinggi dan sifat positif thingkingnya dalam menghadapi setiap masalah membuat aku yakin bahwa aku tak salah memilihnya sebagai abang meski kami berbeda warna "kulit".

Jiwa Usahawannya telah terasah sejak muda, jatuh bangun dalam usaha tlah dia alami,namun dia tetap bangkit untuk mencobanya terus hingga suatu saat jiwa sosialnya yang tinggi di manfaatkan dengan salah oleh rekan bisnisnya,dan sahabatku-pun terpuruk dengan hutang yang nilai lumayan besar,semua telah dia lakukan untuk menyelamatkan usahanya termasuk menganggunkan rumah dan menjual kendaraannya,namun tetap tak menyelesaikan masalahnya.
Jujur untuk yang satu ini aku tak banyak bisa menolongnya, aku hanya bisa memberinya sebuah bara kecil dengan harapan bisa membakar kembali semangatnya.

Hingga suatu hari dia menghubungi aku dengan sebuah kabar , dia ingin mendonorkan ginjalnya untuk menutupi hutang-hutangnya dan memulai kembali usahanya, tentu ide yang jelas jelas aku tolak keras, berbagai teory dan pertimbangan aku berikan termasuk kisah persahabatan aku yang tak lama dengan seseorang yang hidup dengan satu ginjal,keterlibatannya denganku untuk menemui founder dalam sebuah proyekpun tak membuatnya cukup yakin untuk menyelasaikan masalahnya,dia tetap pada keputusannya yang setengah gila,mendonorkan ginjalnya.

Mungkin sahabatku bukan orang pertama yang kita dengar ingin "mendonorkan" ginjal mungkin dia orang kesekian ratus yang kita dengar tapi saya yakin dengan satu alasan sama yaitu ekonomi,dalam pertemuanku tadi malam satu pertanyaan yang tak mampu aku jawab;
mana yang kamu pilih;
kita yang sengsara atau
anak istri kita ?

Dan dalam perpisahanku aku bertanya padanya;
do'a apa yang aku harus panjatkan untuk abang pada Rabb-ku ?

Dan akupun hanya sanggup mendo'akan apa yang akan terjadi sebagai keputusan terbaik-NYA.

Whatever...apapun yang terjadi hidup harus lebih baik

2 komentar:

bening mengatakan...

Sebagai seorang sahabat, kamu sudah mengusahakan yang terbaik tapi bagaimana pun keputusan mutlak ada di tangan dia.
Mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya, kita tidak bisa mendekte Tuhan dengan apa yang kita inginkan.
Saat ini tugas kita hanyalah mendo’akan dia, dan juga cobalah untuk selalu berfikir positif, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

si kumb@ng mengatakan...

nice share, thanks

Posting Komentar

Pendapat sobat untuk hidup yang lebih baik lagi [no spam please]

Related Posts with Thumbnails