English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Kebijakan Cinta [2]



Satu jam perjalanan udara Batam-Jakarta terasa begitu lama bagiku, Servis manis yang diberikan pramugari tak sedikitpun mampu melelehkan kemendungan di wajah, seandaianya saja aku tak malu mengakui bahwa laki-laki juga boleh menangis, ingin rasanya segera kutumpahkan bendungan air disudut mataku.

Meski sedikit berjubel kupaksakan juga menjadi salah-satu bagian dari isi perut angkot yang sedang melaju terseok-seok membelah panasnya jalanan ibu kota. Uang di kantongku lebih dari kata cukup, namun sengaja aku putuskan untuk naik angkot, banyak kisah yang ingin aku nikmati kembali dalam angkot ini, kisah manis tentang kemiskinan, tentang cinta.

“Ternyata enak juga ya naik angkot, rame”

Itu adalah kata-kata lucumu ketika untuk pertama kalinya kuajak jalan-jalan tanpa memakai fasilitas mewahmu.
“Kemanggisan-kemanggisan… kosong”
“Kebun jeruk….. kosoooong”.
Kudengar beberapa kali supir menyebutkan beberapa nama jalan yang kuhapal diluar kepala.

“Ya Tuhan Ya Robbi, hamba mohon jangan Engkau tawarkan kesempatan kedua itu, beri hamba kekuatan untuk menetukan pilihan yang bijak, agar tiada lagi tetesan airmata pada orang-orang yang hamba kasihi”.
Semakin mendekati tujuan, tak henti-hentinya kupanjatakan sebersit do’a sebagai pengharapan atas takdir cintaku.

Kulihat tujuanku sudah didepan mata, sebuah bendera lambang kematian kulihat berkibar malas di depan Gang rumah sahabatku, teriakan tertahanku membawa angkot sedikit minggir ke sisi kiri jalan.

Sesampaianya aku di depan pintu rumah yang menjadi tujuanku, kulihat Bu Asih sedang menyalami beberapa tamu yang hendak undur diri, kucoba memberikan sisa2 senyumku padanya.
“Assalamu’alaikum Bu”
“Wa’alaikumsalam, Gunawan ???, ini kamu Gun ???, Masya Alloh kemana aja kamu selama ini??, kenapa kamu datang disaat sahabatmu pergi?”.
Jawabnya sambil menumpahkan sisa2 airmatanya dalam pelukanku.yang sepertinya telah terkuras habis
“Maafkan Gunawan Bu”,
Jawabku sambil mencoba mencium tangan keriput Ibu sahabatku, yang juga telah kuanggap sebagai ibuku sendiri itu.
“Ayo masuk-masuk, jam 9 tadi pagi Imam di makamkan, kalau kamu mau ke makamnya biar nanti diantar Joko, Kamu istirahat dulu gih, biar Ibu ambilkan minum”.
“Ya Bu, terima kasih”.
Kuperhatikan sekeliling, ada beberapa sisa makanan kecil dan gelas air mineral berserakan disana-sini, kucoba membersihkan semampuku, sampai tanpa kusadari saat ini aku sedang berjongkok didepan pintu kamar almarhum sahabatku, entah karena rasa kangenku yang luar biasa ataukah karena rasa penyesalan karena mendapati sahabat yang telah pergi mendahuluiku, perlahan kudorong pintu kayu yang penuh dengan sticker didepanku, kulangkahkan kakiku untuk masuk, hemm… aku sangat mengenal aroma itu, sangat jelas.

“Gun.., Ibu cuma mau memberikan ini, sebelum Imam meninggal dia menitipkan surat ini pada Ibu untuk diserahkan ke kamu”.
Kata Bu Asih setelah berada di dalam kamar, dan sepertinya aku mengenal kertas yang kini telah ada di gengaman tanganku ini, ah tidak mungkin, barangkali hanya kebetulan saja kertasnya sama.

Kulihat Ibu masih diam mematung disisiku, kuberikan dia tempat duduk agar bisa bersama-sama membaca surat wasiat yang telah dititipkan pada Beliau, perlahan kubuka surat itu, deggg… ini adalah suratku, tak salah lagi ini adalah surat yang aku titipkan padanya hampir dua tahun yang lalu, tapi bagaimana mungkin masih ada disini, bukankah aku telah memintanya untuk mengirimkannya kepada zai, kuperhatikan dengan seksama kalimat perkalimat surat ku, tak ada yang berbeda, kecuali tambahan satu kalimat dibagian luar lipatan suratku yang sepertinya ditulis sendiri oleh tangan almarhum.

“Maafkan aku, karena tak mampu memenuhi amanahmu, sungguh seandaianya kamu melihat pengharapan bening matanya, aku yakin kamu tidak akan mampu meninggalkannya, dia begitu tulus mencintaimu, aku tak tega membuatnya menangis lagi jika mengetahui isi suratmu, yang kuyakin tidak hanya akan membuatnya semakin terluka tapi akan lebih dari itu, aku hanya berharap dengan tidak ada adanya kata pamit darimu, semakin mudah baginya untuk membencimu dan pada akhirnya melupakanmu”

Ya Allah, Ya Robbi, tolonglah hambamu, apalagi yang akan terjadi ini.

“Gun, sebenarnya beberapa kali zai masih main kesini, dan setiap kedatangannya satu pesan sama selalu zai titipkan pada Ibu”.
“Zai minta Ibu mengkabarinya kalau ada kabar tentangmu, sepertinya zai sangat ingin bertemu kamu”
Nama itu disebut berkali-kali, zai sering kemari??, menitipkan pesan yang sama, kudengar ibu bercerita panjang lebar tentang zai dengan kehidupannya sepeninggalnya aku.

“Bu, tolong jangan cerita lagi tentang zai, kedatanganku kemari bukan untuk dia, tapi untuk sahabatku Imam, ceritakan saja tentang Imam Bu, apa saja, aku ingin mendengarnya, tapi tolong jangan sebut lagi nama zai Bu”.
“Imam telah pergi dengan bahagia, dia telah tenang disisinya, tak perlu lagi dibicarakan, apalagi diceritakan, ikhlaskan dia seperti apa yang telah Ibu usahakan”.
Kulihat Bu Asih membuang nafas berat, entah beban pikiran apa yang saat ini sedang dipikulnya.
“Ibu kasihan pada zai, dia sangat tersiksa dengan sekenario yang diciptakan orang tuanya”, lanjut Bu Asih kemudian

“Bu, aku mencintai zai, sangat mencintainya, tapi tak berarti aku harus merampasnya dari pemiliknya, orangtuanya jauh lebih berhak atasnya daripada aku, apalagi sekarang dia telah menikah, tidak mungkin aku kembali hadir dalam kehidupannya, dan tiba-tiba menculiknya untuk menjauh dari kerajaannya sendiri”.

Sungguh aku tak mau lagi mendengar apapun tentang zai, kali ini aku tak mampu lagi menahan air mataku, bendungan yang selama ini kucoba tahan akhirnya jebol juga, meski aku tidak yakin apakah airmata ini untuk kepergian sahabatku ataukah menangisi keberadaan surat yang memaksaku kembali bernostalgia dengan luka lama.
“Maafkan Ibu Gun, Ibu hanya ingin melihat kalian bahagia”.
Aku tak mampu lagi bicara banyak, Sosok Bu Asih selalu saja membuatku terharu, dia memang bukan Ibuku, tapi kasih sayangnya padaku, sangat luar biasa, maka hanya sebuah pelukan hangat saja yang mampu aku berikan padanya sebagai ucapan segala terima kasihku.

***
Semerbak aroma bunga setaman masih menyelimuti rumah baru sahabatku, teduhnya pohon kamboja membuatku engan untuk segera bangkit dari makam yang bertuliskan Imam Muslim Bin Muh. Subadri, kali ini tidak lagi ada air mata, karena kuyakin kamupun tak menginginkannya.

Rintik hujan tiba-tiba tumpah dari langit, seakan-akan menyuruhku untuk segera bangkit dan pulang. Dengan berat kulangkahkan kakiku meninggalkan makam, kali ini aku tidak lagi menyusuri jalan yang sama ketika aku datang, tapi jalan lain sebuah jalan yang akan melewati komplek sebuah yayasan, berharap melihat dia, senyumnya, kebahagiaanya, meski hanya sebentar, meski hanya dari jauh, jujur akupun rindu padanya, rindu bening matanya.

Bisunya pagar kokoh bercat putih itu seolah-olah hendak mengatakan apa yang kucari tiada lagi, dan tidak mungkin kunikmati senyumnya, menjauhlah, pergilah, semuanya telah berakhir. Entahlah, betapa bodohnya aku, kenapa juga kuturuti kehendak hati yang menginginkan ketidakmungkinan.

***
Hampir 2 hari aku berada di rumah almarhum sahabatku, tiket pesawat jakarta-batam telah kukantongi, barang-barang bawaan yang tak seberapa telah kelar kukemasi, masih ada waktu 3 jam sebelum pesawatku take off.

‘Bu, aku pamit ya”.
“Gun, maafkan Ibu, maafkan”.

Ibu Asih minta maaf padaku, ada apa ini??, belum sempat kulontarkan pertanyaanku pada Beliau, kulihat sosok anggun telah berdiri di balik punggungnya.

“Assalamu’alaikum Mas Gun”.
Hatiku bergetar, bibirku kelu, apa yang kutakutkan selama ini terjadi juga, Hemm… kalau memang suratku tak tersampaikan, sekaranglah saat yang tepat untuk mengatakan ketidakmungkinan garis takdir antara kami. Bismillah…

“Wa’alaikum salam”, kucoba memberikan senyumku padanya, bersamaan dengan menghilangnya Ibu Asih diantara kami.
“Pa khabar Mas?”, tanyanya kemudian setelah sekian detik tak juga keluar sepatah katapun dari mulutku.
“Berkat do’a dalam setiap sujudmu, Insya Allah aku akan selalu baik”. Duhhh… kulihat senyum itu lagi.
“Kemana aja selama ini kamu mas?, kenapa kamu menjauh dariku??”
“Siapa bilang aku menjauh?, lha ini jarak kita cuman terhalang satu meter, apa kurang deket??”, jawabku mencoba memancing tawanya.
“Mas Gun, kata Ibu kamu akan berangkat lagi, apa kamu sudah benar-benar tak sayang lagi sama aku?, hampir 2 tahun kamu pergi meningalkanku tanpa pamit, dan selama itupula aku masih sama seperti dulu, mencintaimu, merindukanmu, dan mengaharapkan kamu datang menjemputku”.
“De’, Aku sangat menyayangimu, kepergianku dulu adalah salah satu usahaku untuk menyayangimu, membuatmu bahagia”.
“Kamu salah mas, aku tidak bahagia, bawalah aku pergi mas, kemana saja”.
“Jangan De’, akan banyak lagi airmata yang tumpah jika kau paksakan ikut bersamaku, bukan hanya airmata orang tuamu, suamimu, tapi air mata polos anakmu, dia membutuhkan keutuhan orang tuanya”.
“Akan kuajak serta anakku, dia masih kecil tidak tahu apa-apa “.

“Hidup ini adalah pilihan dan kesempatan, ketika dua tahun yang lalu kuputuskan langkah kaki ini menjauh darimu, maka sebuah pilihan telah kutentukan, ketika kamu menerima pinangan suamimu dan merelakan rahimmu ditempati sosok mungil anakmu, itu juga sebuah pilihan dan ketika pertemuan antara kita kembali terjadi ini hanyalah sebuah kesempatan, kesempatan yang menuntut jiwa besar untuk menentukan pilihan langkah bijak berikutnya”.

“Tapi aku tidak pernah menentukan pilihanku sendiri, aku hanya menjalankan pilihan orang tua, dan sekarang aku akan menentukan pilihanku, aku akan pergi bersamamu, apapun resikonya”.

“Zai yang cantik, Ibu yang hebat…, kita sudah memilih langkah kita masing-masing, takdirmu adalah menjadi istri dan ibu dalam kerajaan kecilmu, dan takdirku adalah menjadi bagian masa lalumu, jangan pernah mencoba untuk protes atas kebijakan-Nya, yakinlah ini yang terbaik buat kita, cintailah suami dan anak-anakmu semata-mata karena cintamu pada-Nya”.

“Apa ini artinya kamu menolak tawaranku?”.

“Sungguh kamu adalah sosok impianku, tapi aku cukup tahu diri, biarlah rasa kagumku atasmu menjadi penghibur dalam setiap langkahku, dan semoga yang terbaik selalu menjadi takdirku, kembalilah ke suami dan anak-anakmu, disanalah tempatmu yang sebenarnya”.
Hening sejenak diantara kami, kulihat matanya semakin basah.
“Jangan menangis De’, tak ada yang perlu ditangisi lagi”.
“Baik.., kalau memang ini keputusanmu, mungkin didunia ini kita tak bisa bersama, semoga di surga kelak kita kembali dipertemukan, karena itu kumohon langkahmu jangan belok-belok, luruskan ke arah pintu surga ya”.
“Ha ha ha…., mohon do’anya ya, agar Tuhan menyisakan satu kaplingan tempat buatku disurga-Nya kelak”.
“Aminnn…, Insya Allah mas”.
“Kamu hebat De’, dan aku yakin kamu akan selalu demikian, hemmm…., sudah waktunya berangkat nih, aku pamit ya, kuatkan niatmu atas pilihan bijak ini, dan semoga akupun demikian, oh ya kamu mau baca suratku yang kubuat 2 tahun yang lalu untukmu?”.
“Maksudmu?”
“Sebenarnya sebelum aku pergi meninggalkanmu dulu, aku menitipkan sebuah surat kepada almarhum Imam Muslim, tapi karena kehebatannya surat itu tak jadi terbaca olehmu, mua nggak??”
“Nggak usah Mas, paling-paling juga surat ucapan perpisahan, kalau aku baca nanti malah mukamu merah keungu-unguan”
“Terong kali ungu, he he he…”
“Aku yakin isi suratnya tentang permintaan maafmu karena telah meninggalkanku, dan juga beribu-ribu ucapan bahwa engkau masih mencintaiku? Iya kan??”
“Ihh PD banget nih anak”.
“Mantannya siapa dulu dong??”.
Untuk pertama kalinya kami bisa tertawa lepas, bersamaan dengan itu keluar Ibu Asih yang tampak terbengong-bengong dengan kerukunan kami, segera saja kami berdua berpamitan pada Beliau.

***
Dipersimpangan jalan ini kamu melangkah kearah yang berlawanan dengan langkahku, meski hatiku menyisakan sedikit kesedihan, tapi aku yakin ini adalah pilihan bijak yang terhebat dalam hidupku, meninggalkan sosok beningmu tanpa lagi ada air mata.

Uppsss… langkahku tiba-tiba terhenti, ketika di pinggir jalan kulihat sebuah dompet tergeletak.
“Pak, saya menemukan dompet ini dipinggir jalan situ, saya titipkan Bapak ya, kali aja ada yang mencari, saya harus pergi cepat soalnya”.
Kuserahkan dompet coklat mungil kepada seorang tukang becak yang kebetulan lewat, sambil tak henti-hentinya mengucap kata syukur, gara-gara sebuah dompet aku pernah patah hati, maka kali ini kupastikan tak akan ada dompet lagi yang mampu membuatku menangis.

NO DOMPET, NO CRY

whatever...apapun yang terjadi hidup harus lebih baik.


Ternyata susah juga membuat cerita bersambung.. :)
makasih untuk sahabat atas ide dan sarannya.....

20 komentar:

INUEL mengatakan...

PERTAMAXX DOLO,,BESOK KOMENTARNYA,,DAH JAM 9 ABANGGGGGGGGGG

inuel mengatakan...

happy ending,semoga pengorbanan gunawan menjadi guru terhebat Zai,sampe ngga bisa berkomentar ni,saking bagusnya,kira kira season 3 bisa bersatu ngga yah,aku tgu ni cerita lanjutannya,,buat Mom (si sdahabat hebat,,posisimu Pertamax kuduluin,.... )
cinta yang indah,lebih indah klo bisa bersama di dunia dan di akirat,semoga.........

dhimas mengatakan...

bos ane turut berduka nich, eh sori bos aq 'ngak lanjutin britanya, coz amat mengharukan nich and jadi merinding healthlovemoneyand family

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Ateh75 mengatakan...

Wah tadi saya udah mencoba yg pertama koment .Saat aku baca alur ceritanya aku menitikkan air mata tersentuh,merinding & bangga.Setelah selesai baca aku tersenyum bahagia...bangga dengan Gunawan & ZAi yg memahami arti cinta hakiki ...luar biasa.Sulit untuk bisa bijak seperti cintanya Gunawan..Subhanallah.nice post.

black chromatic mengatakan...

mantab blognya gan

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Aku jadi terenyuh membaca ceritanya,... salam kenal yah mas.

si kumb@ng mengatakan...

@Inuel : Ya,happy ending..makasih ya
@Dhimas : Thank's
@Anonim : Sorry ya aku hapus
@Ateh75 : Sma teh..,makasih ya teh..
@Black chromatic: makasih
@Seti@wan Dirgant@ra : makasih bang, salam kenal kembali

bening mengatakan...

hemmmm....
terkadang kesempatan yang ada, tak memberikan keleluasaan pada kita untuk menentukan pilihan yang paling kita inginkan, disinilah di tuntut kehebatan hati untuk memilih jalan yang paling bijak
nice story, u always great

dykapede mengatakan...

cie...cinta itu membuat saya...^_^...V

genial mengatakan...

breath taking

genial mengatakan...

o iy.. makasih kunjungannya :)

Fajar mengatakan...

jganl lupa jlan2 ke blog aq jga y?? dan jgan lupa kash comment...

NURA mengatakan...

salam sobat,,trims kunjungannya ya,,maaf baru balas ,krn kemarin lg off.

duh,,cinta,,dan kebijakan cinta ,nich,,,kasihan sobat pernah patah hati gara2 dompet,,tapi ngga jelas deh,,dompet bisa bikin menangis siih..?

TRIMATRA mengatakan...

setiap kata penuh makna , mengalir bagai puisi ungkapkan segala isi hati.

cinta adalah........karunia sang pencipta mas, mesti disyukuri.

si kumb@ng mengatakan...

@bening :makasih ya atas saran dan idenya...
@dykapede-genial-fajar :makasih sobat ....
@NURA : he he, berdasarkan kisah yg pertama teh :)
@TRIMATRA: bener mas...apapun keadaannya
Jika Cinta harusnya menjadi sebuah karunia...

WINARDI mengatakan...

Waw..menyentuh banget ceritanya membuat bulu kudukku merinding haru..sungguh cerita yamg bagus sekali.

HAEDIR mengatakan...

ketika cinta bertasbih donk !!
heheh

lam knl @!!!
visit my blog yaaa

http://kebo-ello.blogspot.com/

KucingTengil mengatakan...

Kumbaaaaaaang. dikau kerjanya dimana sih? jangan2 kamu penulis yaaaa. Tulisan kamu enak bgt (sayang ga bisa di makan hiks). coba terbitin gih...

شات مصري,شات بنات mengatakan...

http://www.hmsat1.com/

Posting Komentar

Pendapat sobat untuk hidup yang lebih baik lagi [no spam please]

Related Posts with Thumbnails