English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Rindu kami...



Sedikit cerita tentang kepemimpinan sahabat Nabi,kepemimpinan yang telah terbukti mampu membuat tinta emas dalam perjalanan sejarah dunia,keteladanan yang begitu di hormati dan disegani baik oleh kawan maupun lawan,sosok pemimpin yang begitu aku rindukan,mungkin juga anda...
selamat membaca,

Sesaat setelah Rasulullah(SAW) wafat, kaum Muslimin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan Islam. Ketika itu Abu Bakar(RA) memegang tangan Umar bin Khaththab RA dan Abu Ubaidah bin Jarrah RA sambil mengatakan kepada khalayak, "Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat menjadi khalifah.
Umar yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah sebagai kepercayaan ummat ini."

Tangan Umar gemetar mendenngar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia kejatuhan bara
yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan menangis dengan rasa malu yang
sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak, "Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke
depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa, daripada diangkat menjadi pemimpin
suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar."

Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan dirinya
yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah dalam
mengendalikan pemerintahan. Tidak setegas Umar dan tidak sebijak Abu Ubaidah.

Tapi akhirnya pikiran dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena
dialah sesungguhnya yang paling dekat, ditinjau dari berbagai aspek, untuk
menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini.

Setumpuk alasan dapat dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai
khalifah. Dialah orang yang dianggap paling dekat dengan Rasulullah SAW dan
paling kuat imannya, sesuai pernyataan Nabi, "Kalau iman seluruh ummat Islam
ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka lebih berat iman Abu Bakar."

Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Nabi SAW.
Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga
berikutnya, sambil berpidato, "Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat
menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian.
Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan, maka
luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara kalian
adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya. Taatlah
kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku durhaka,
janganlah kalian taat kepadaku."

Sang khalifah berusaha menjaga wibawa kepemimpinan. Tapi dalam kedudukannya
sebagai seorang pemimpin dia berusaha meyakinkan orang yang di bawah
kepemimpinannya bahwa jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab,
bukan penguasaan.
Penguasa adalah satu orang di antara ummat, bukan ummat dalam satu
orang. Abu Bakar tidak menginginkan karena jabatan, dia jadi jauh dengan ummat.
Sebaliknya, dia ingin semakin dekat dengan mereka. Terhadap ketentuan Nabi dia
menyatakan, "Saya lebih rela diterkam serigala daripada mengubahnya."

Demikianlah gambaran ketegangan yang terjadi pada waktu pemilihan jabatan
khalifah. Semua orang menolak jabatan, padahal kapasitas para sahabat sangat
memadai untuk memegang kekuasaan.

Ketika Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab disepakati tampil sebagai pengganti.
Umar yang memegang amanah selama dua dekade (10 tahun) lebih 6 bulan dan 4 hari,
berhasil menggurat sejarah yang mengubah peta dunia.

Lelaki perkasa yang digambarkan kekuatannya saat menentang Islam di zaman
jahiliyah sama dengan kekuatan seluruh kaum Quraisy, telah tampil dengan perkasa
pula di zaman Islam membela kebenaran, membayar dosa-dosa jahiliyahnya.

Dia larutkan dirinya dalam pengabdian mewujudkan pemerintah yang bersih dan
bertanggung jawab. Kontrolnya berjalan efektif, sehingga seluruh rakyatnya tidak
ada yang luput dari perhatiannya.

Ketika penduduk pinggiran kota kena paceklik, Umar sendiri yang memikul gandum
di pundaknya, lalu mengantarkan ke rakyatnya yang tengah dilanda kelaparan. Lalu
penduduk itu segera dipindah-kan ke kota untuk mempermudah pemantauannya.

Suatu malam, kota Madinah kedatangan kafilah yang membawa barang dagangan.
Diajaknya Abdurrahman bin Auf menemani penjaga kafilah itu semalam suntuk. Tapi
tidak jauh dari tempat kafilah itu ada bayi yang selalu menangis, tidak mau
diam. Umar berulangkali menasihati, bahkan memarahi ibunya, karena tidak dapat
mendiamkan anaknya.

Ibu sang anak itu lalu berkomentar bahwa, "Inilah kesalahan Umar, karena hanya
anak yang tidak menyusui yang diberi tunjangan, sehingga anak yang usianya baru
beberapa bulan ini terpaksa saya sapih." Umar sangat terpukul mendengar
kata-kata ibu itu.

Ketika menjadi imam shalat Shubuh, bacaan ayatnya tidak jelas karena diiringi
tangis. Usai shalat, Umar langsung mengumumkan bahwa seluruh anak kecil mendapat
tunjangan dari baitul mal, termasuk yang masih menyusui.

Tegas dan Sederhana

Prinsip ketegasan dan kesederhanaan dipegang kuat oleh Umar. Para gubernur yang
bertugas di daerah cukup kewalahan dengan sikap itu.

Pernah 'Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa menaklukkan Mesir, diberi
hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir melapor bahwa dirinya pernah dipukul
sang gubernur. Orang yang melapor itu sendiri yang disuruh memukulnya.

Pernah juga Abdulah bin Qathin, seorang gubernur yang bertugas di Hamash,
dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya dengan baju gembala, kemudian
disuruh menggembala domba beberapa saat. Sebelumnya ada yang diperintahkan
membakar pintu rumahnya, karena salah seorang rakyatnya bercerita setelah
ditanya oleh Umar tentang keadaan gubernurnya. Dia menjawab, "Cukup bagus, hanya
sayangnya dia mendirikan rumah mewah."

Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali pintunya dan dipesan, "Kembalilah
ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi. Saya tidak pernah
memerintahkan engkau membangun rumah besar," tegas Umar.

Sebaliknya, terhadap gubernur-nya yang sederhana, Umar sangat sayang. Seperti
yang dilakukannya terhadap Sa'ad bin Al-Jamhi yang diprotes rakyatnya karena
selalu terlambat membuka kantornya, tidak melayani rakyatnya di malam hari dan
tidak membuka kantor sehari dalam seminggu. Itu dilakukan karena Sa'ad tidak
memiliki pembantu sehingga dia membantu istrinya membuatkan adonan roti. Nanti
setelah adonan itu mengembang, barulah berangkat ke kantor.

Sa'ad tidak melayani rakyatnya di malam hari karena waktu itu digunakan untuk
bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sengaja
tidak membuka kantor sehari dalam seminggu kecuali di sore hari karena ia harus
mencuci pakaian dinas dan menunggu hingga kering.

(*dari berbagai sumber)
**********

Ada sedikit pelajaran dari sedikit cerita tentang kepemimpinan para Sahabat Nabi, yang bisa kita ambil hikmahnya;

1. Jabatan, Bukan sebuah Keistimewaan.
2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas.
3. Kerja Keras, Bukan Santai.
4. Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.
5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.

Semoga kita mendapatkan pemimpin yang kita Idamkan untuk membangun Indonesia yang lebih baik,semoga....

Whatever...apapun yang terjadi hidup harus lebih baik.

10 komentar:

Stop Dreaming Start Action mengatakan...

Ya Robbi...
Karuniakanlah kepada kami, pemimpin pemimpian dengan jiwa seperti Suri Tauladan kami.
Jangan turunkan kepada kami, pemimpin yang hanya akan semakin menjauhkan kehidupan kami dari Ridhomu...

Amiin

Kisah Suri Tauladan yang sangat layak kita contoh. Karena kita mungkin bukan kandidat pemimpin bangsa, tapi bisa kita terapkan dalam memimpin diri kita dan memimpin lingkungan terkecil kehidupan kita (keluarga). Terimakasih telah memberi sebuah pencerahan.

Salam

si kumb@ng mengatakan...

@Stop Dreaming Start Action: Amiiin dan makasih ya

narti mengatakan...

mereka yang memiliki sifat seperti itu saja rendah hati, terkadang kita malah sombong, padahal belum seberapa.
makasih sharingnya, banyak manfaat dari sini.

Inuel^-^ mengatakan...

semoga do'a hamba allah terjawab dengan pemimpin yang iklas memimpin negri ini,hanya karena allah,
aku malah pengennya thu,para calon pemimpin rakyat membaca Blog para blogger hebat ttg kepemimpinan,supaya mereka bisa sedikit "melek"
ehmmm,,gmn jadinya ya kalo calon pemimpin BW,ngga bisa ngebayangin dech aku Abang!!

kang tatang mengatakan...

Kapan Indonesia punya pemimipn seperti ini....

kangtatang

si kumb@ng mengatakan...

@mbak Narti : iya..ya mbak,makasih jg mbak
@inuel : hmm Amiin nuel, iya coba mrk BW ya
@kang tatang: Kapan2 kang :D

dykapede mengatakan...

sang pemimpi atau sang pemimpin...berharap yang terbaik bagi Nusa & Bangsa...^_^...V

Puluhan Fans Berat Michael Jackson Ingin Ikut Mati mengatakan...

kepemimpinan seperti inilah yg kita butuhkan...

NURA mengatakan...

salam sobat,,untuk hidup yang lebih baik lagi, ya lebih baik ibadahnya, lebih baik kesehatannya, lebih baik rezekinya dan semua kelakuan lebih baik,,,di dunia maupun di ahkirat,,,maunya.

شات مصري,شات بنات mengatakan...

http://www.hmsat1.com/

Posting Komentar

Pendapat sobat untuk hidup yang lebih baik lagi [no spam please]

Related Posts with Thumbnails