English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Haruskah Hati Menciptakan Jarak




Suatu Hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab,"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya,
"lawan bicaranya justru berada di sampingnya, Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat.
Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah.
Dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus Dan kecil.Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas.
Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan Mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Kemarahan hanya akan menciptakan jarak
Jarak hanya menciptakan Perpecahan
Perpecahan hanya mendatatangkan Bencana

bersabar tetap menjadi pilihan yang terbaik...


semoga berkenan
whatever...apapun yang terjadi hidup harus lebih baik

*spesial thanks to my brother Hadianto Koswara, our Allah Blessing U

18 komentar:

mama hilda mengatakan...

Setuju...dalam kemarahan hati yang tadinya dekat menjadi semakin menjauh..

narti mengatakan...

ada cinta, ada pelajaran di baliknya, disaat marah lebih baik diam. dalam banget...
makasih sharingnya.

Inuel ^^ mengatakan...

kemarahan memang ajaran setan,,semoga saya bisa bersabar dan ngga maerah marah,,selalu rendah hati,(emng ngga ada yang di sombongin)
sabar kunci kebaikkan,iya ngga bang,aku kok ngomng kyk gini ! :)

bening mengatakan...

dan bencana menimbulkan petaka
petaka menimbulkan apa ya???? (he he he...)
nimbulkan apaan noellllllllllllll

Chandra Praditya mengatakan...

Keren2...

bener juga sih omongannya...

Tapi kalo kita lagi marah + cinta ???


Hahhaaa....

Marahnya bisik2 aj yah???

yanuar catur rastafara mengatakan...

wah,kayaknya ilmu spikologi ups, psikologi..
kemarahan adalah emosi, dan emosi selalu di miliki oleh semua orang,yang saya tahu sich cuma itu..
hehehehe

kang tatang mengatakan...

Makanya biar hati kita tetap dekat dan dijauhkan dari kemarahan, mari kita tingkatkan silaturahmi ;)

trims sahabat atas silaturahminya ke blog saya :)

Kang tatang

Bunga mengatakan...

mantap2 salut2 hebat perumpamaan yang sangat mempunyai arti yang oas menurut saya. salam kenal mas

~uPik_@bU~ mengatakan...

nice post mas :)
hupfffff...kemarahn memang slalu jadi awal bencana

trimatra mengatakan...

kemarahan memang ajaran iblis..., ketika iblis di lempar dari surga ke dunia...maka iblis mengucapkan sumpahnya ingin menyesatkan manusia dengan suara yang lantang dan keras!

nice kontemplation...!

waluyo mengatakan...

kadang memang masih ada guru yang suka memarahi muridnya di depan teman2nya....satu sisi baik untuk pembelajaran bagi yang lain...namun juga membawa ironi bagi si dimarahi...dia akan merasa tertekan dan secara tidak langsung mendapat atribusi negatif yang disematkan gurunya padanya....semoga kita menjadi guru yang bijak setidaknya bagi diri kita sendiri. amin

si embah mengatakan...

sebuah cerita bijak yang mampu menyadarkan emosi yang berlebih!!!
keren bos!

Suara Anda mengatakan...

wah..bisa jadi perenungan nich...
asik dan keren boz..

ulasthree mengatakan...

bisa jadi inspirasi juga nih....mantapppp...!!!!

Anton mengatakan...

sepertinya saya harus lebih banyak belajar lagi diblog ini..
ada banyak pelajaran disini kalo ad postingan
tolong konfirmasi ya

sibaho way mengatakan...

sip. setuju banget. sayang, klo implementasi sehari-hari malah terkesan sulit ya boss :) nice post anyway

si kumb@ng mengatakan...

@ makasih semua sahabat atas komentnya...
pada dasarnya semua memiliki emosi, hanya mau ke arah kemana di bawa emosi tersebut..
dan ternyata Sabar dan Ikhlash tetap menjadi pilihan yang baik..

شات مصري,شات بنات mengatakan...

http://www.hmsat1.com/

Posting Komentar

Pendapat sobat untuk hidup yang lebih baik lagi [no spam please]

Related Posts with Thumbnails